Sebanyak 8340 item atau buku ditemukan

Jalan Bahagia; Mengenal Filsafat Islam

Tinggal dijalani seperti apa adanya. Atau, kita selidiki makna yang tersembunyi di dalamnya. Apabila ingin mendapat bahagia, mari kita mulai mencari. Ada banyak jalan menuju kebahagiaan, salah satunya adalah filsafat Islam. Sudah bukan rahasia lagi bahwa ajaran Islam menuntun manusia menuju bahagia di dunia dan bahagia di alam baka. Ditambah lagi dengan pendekatan filsafat yang menelisik segala sesuatu sampai ke akarnya. Buku Jalan Bahagia; Mengenal Filsafat Islam Ini adalah potongan pertama bagian yang ada pada buku Jalan Bahagia; Berkenalan dengan Filsafat Islam. Benarkah filsafat itu menyesatkan? Nah, di buku ini, kita akan lebih tahu secara mendalam apa itu ilmu filsafat, yuk kita cari tahu. Selamat membaca.

Ditambah lagi dengan pendekatan filsafat yang menelisik segala sesuatu sampai ke akarnya. Buku Jalan Bahagia; Mengenal Filsafat Islam Ini adalah potongan pertama bagian yang ada pada buku Jalan Bahagia; Berkenalan dengan Filsafat Islam.

MADZHAB KEDUA FILSAFAT ISLAM

TEOSOFI ILUMINASI (HIKMAH AL-ISYROQ) SUHRAWARDI AL-MAQTUL

Filsafat iluminasi Suhrawardi merupakan tipe falsafah yang paling orisinil di antara konsep-konsep filsafat yang sealiran, mengingat dia memiliki pengetahuan yang luas dalam berbagai aliran filsafat Yunani, Persia, dan India. Filsafat iluminasi Suhrawardi nampaknya merupakan adonan yang sempurna dari berbagai unsur tasawuf dan filsafat yang dipahami Suhrawardi, melalui jalan sufi dan filosofi atau melalui rasa dan iluminasi. Al-isyraq, berarti bersinar atau memancarkan cahaya, dan lebih tepatnya diartikan penyinaran atau iluminasi. Menurut Suhrawardi sumber segala yaang ada ialah ”Cahaya Yang Mutlak”, yang disebut Nur al-Anwar mirip matahari. Walaupun Dia memancarkan cahaya terus menerus, namun cahaya-Nya tidak perrnah berkurang dan bahkan sama sekali tidak terpengaruh, Nur dalam konsep ini nampaknya dapat dianalogkan dengan rahmat Tuhan (faid). Menurut Suhrawardi ada benda-benda yang merupakan cahaya dalam realitasnya sendiri, dan benda-benda yang bukan cahaya dalam realitasnya sendiri, masing-masing terjadi dengan sendirinya (aksidensial), tak tergantung atau independen. Konsep ini menghasilkan empat macam realitas, yaitu; a) cahaya immaterial yang terjadi dengan sendirinya, yang disebut Cahaya Murni (al-Nur al- Mujarrad), b) cahaya aksidential (al-Nur al-‘Aridl) yang inheren di dalam cahaya immaterial maupun tubuh fisik, c) cahaya perantara (al-barzakh) atau substansi yang gelap (al-jauhar al-gasiq), yaitu tubuh dan d) mode yang gelap (al-hai’ah al- al-zulmaniyah), aksiden di dalam cahaya immaterial maupun tubuh fisik.

Filsafat iluminasi Suhrawardi merupakan tipe falsafah yang paling orisinil di antara konsep-konsep filsafat yang sealiran, mengingat dia memiliki pengetahuan yang luas dalam berbagai aliran filsafat Yunani, Persia, dan India.

Untuk Apa Belajar Filsafat Islam?

Saya harap buku saku ini dapat dibawa kemana-mana, walaupun buku ini kecil tapi semoga isi dari buku ini tidak kecil seperti kelihatannya. Karena masalah tauhid atau ketuhanan merupakan masalah yang paling mendasar, saya mengedapankan filsafat Islam dan tasawuf karena saya kira filsafat adalah cara yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan negara Indonesia, kita bisa berkaca pada negara Iran dan Amerika, yang lebih mengedepankan filsafatnya, dan saya melihat , hampir setiap negara yang mempelajari filsafat dengan baik, negaranya maju.

Saya harap buku saku ini dapat dibawa kemana-mana, walaupun buku ini kecil tapi semoga isi dari buku ini tidak kecil seperti kelihatannya.

MADZHAB KETIGA FILSAFAT ISLAM TRANSENDEN TEOSOFI

(AL-HIKMAH AL-MUTA’ALIYAH) MULLA SADRA

Buku ini membeberi pemikiran filsafat Islam madzhab ketiga yang dibangun oleh Mulla Sadra dengan nama al-Hikmah al-Muta'alyah (transenden teosofi). Jika madzhab pertama filsafat Islam yaitu al-Hikmah al-Massyaiyah (filsafat paripatetik) bertumpu pada rasional filisofis, dan Hikmah al-Isyroq (filsafat iluminasi) yang dibangun oleh Suhrawardi al-Maqtul bertumpu intuisi mistik dan dikokohkan dengan argumen filosofis, maka transenden teosofi Mulla Sadra dibangun dengan keduanya yang kemudian diselaraskan dengan syari'ah (Al-Quran dan As-Sunnah). Berangkat dari uraian buku ini yang menguraikan sepercik dari lautan pemikiran Mulla Sadra terasa sekali racikan ramuan ketiga landasan tersebut, sehingga sulit bagi para pemerhati filsafat Islam untuk mengkritik madzhab ketiga filsafat Islam ini. Namun, sebagaimana pepatah mengatakan "tiada gading yang tak retak", aliran ini juga memiliki ketidakkonsistenan dalam beberapa hal seperti yang ditulis oleh Fazlurrahman. Oleh sebab itu, pemikiran filsafat Islam harus terus dikembangkan seirama dengan perkembangan kebudayaan umat manusia menuju yang lebih sempurna dan melahirkan filsafat Islam madzhab keempat. Amin

Buku ini membeberi pemikiran filsafat Islam madzhab ketiga yang dibangun oleh Mulla Sadra dengan nama al-Hikmah al-Muta'alyah (transenden teosofi).

Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam

Seyyed Hossein Nasr merupakan salah seorang tokoh dan “orang pertama” yang paling otoritatif dalam membicarakan kajian-kajian Timur, utamanya disiplin filsafat dan mistisisme Islam. Oleh karenanya, kita patut bersyukur bahwa Ach. Maimun Syamsuddin telah meluangkan waktu untuk menerjemahkan salah satu teks kunci filsafat Islam ini ke dalam bahasa kita secara bernas. Buku yang pada mulanya disampaikan sebagai bahan kuliah di Harvard University ini penting kita baca jika kita hendak memahami lebih mendalam tentang korpus filsafat Islam. Penulis buku ini punya hipotesis menarik. Ia menyatakan bahwa filsafat Islam, pada prinsipnya, dapat diklasifikasikan ke dalam tiga madzhab utama: Madzhab Ibnu Sina, Madzhab Suhrawardi, dan Madzhab Ibnu ‘Arabi. Adapun percikan-percikan filsafat dari filsuf-filsuf Islam lainnya tak lebih hanyalah “catatan kaki” dari ketiganya. Maka, untuk mendalami filsafat Islam secara lebih detail, orang terlebih dahulu memahami secara benar buah pikiran ketiga filsuf tersebut. Dan, melalui karya ini, penulis hendak menuntun pembaca bertamasya ke taman filsafat Islam yang sesungguhnya yang lebih kompleks, rumit, dan membahagiakan.

Seyyed Hossein Nasr merupakan salah seorang tokoh dan “orang pertama” yang paling otoritatif dalam membicarakan kajian-kajian Timur, utamanya disiplin filsafat dan mistisisme Islam.

Agama dan COVID-19 Perspektif Aqidah dan Filsafat Islam

Agama dan COVID-19 Perspektif Aqidah dan Filsafat Islam Penulis : Erinadwi Terbit : Juni 2021 Sinopsis : Buku ini berisi tentang dialog antar iman dengan 6 agama yang ada di Indonesia, yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan juga Konghucu. Selain itu buku ini juga membahas tentang bagaimana agama memandang pandemi COVID-19 dari berbeagi sudut pandang yang berbeda-beda dan juga fenomena sosial lain seperti konflik agama serta konflik sosial. Sumber utama buku ini yaitu dari diselenggarakannya Sekolah Lintas Iman (SLI) ke-12 yang diselenggarakan oleh Institut Dialog Antar Iman di Indonesia (Institut DIAN/Interfidei). Serta telah mendapat izin dari institut yang bersangkutan. Selain itu penulis kemudian memadukannya sesuai dengan bidang penulis, yaitu Aqidah dan Filsafat Islam. Sehingga terbentuklah sebuah buku yang membahas 3 tema besar, yaitu agama, pandemi, serta aqidah dan filsafat Islam. Buku ini diharapkan mampu merendam konflik agama dan juga sosial yang ada di Indonesia serta menumbuhkan kembali semangat bertoleransi. Selain itu buku ini dapat memberikan pandangan baru tentang agama yang ada di Indonesia, di mana perspektif 6 agama dijadikan satu dalam buku ini. Happy shopping & reading Enjoy your day, guys

Agama dan COVID-19 Perspektif Aqidah dan Filsafat Islam Penulis : Erinadwi Terbit : Juni 2021 Sinopsis : Buku ini berisi tentang dialog antar iman dengan 6 agama yang ada di Indonesia, yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan juga ...

Al-Hikmah Al-Muta’aliyah Mulla Sadra

Sebuah Terobosan dalam Filsafat Islam

Buku pengantar ke biografi intelektual Mulla Sadra sudah lama kita tunggu-tunggu. Sudah cukup lama pemikiran Mulla Sadra diperkenalkan di Indonesia, termasuk terjemahan beberapa bukunya, namun belum ada biografi memadai tentang hidup dan garis besar pemikiran tokoh ini. Karya Nasr ini, meski ringkas dan mudah dipahami, pada saat yang sama bersifat komprehensif dan tak kehilangan kedalaman. Buku ini bisa menjadi pengantar yang bagus untuk memelajari lebih jauh pemikiran Mulla Sadra. —Haidar Bagir, dosen STFI Sadra Jakarta Buku ini tidaklah harus dilihat sekadar sebagai pengantar informatif, tetapi kita harus melihatnya sebagai sebuah pengantar untuk menghidupkan elemen intelektual atau “philo sophia”, yaitu cinta hikmah yang selama ini terpendam dalam diri kita. Kita harus mulai sadar bahwa kita sudah lama menjauh dan kehilangan akar peradaban tradisi Islam. Seperti kita lihat di kalangan Sufi yang mempunyai tradisi membaca manakib dengan tujuan bukan sekadar untuk menceritakan tentang hal ihwal seorang guru, tetapi yang paling penting adalah untuk mengingatkan kepada para murid bahwa di dalam diri mereka terpendam sebuah kemungkinan untuk mencapai maqam al-‘āliyyah [yang tinggi]. Begitu juga dengan membaca tulisan seperti ini. —Muhammad Baqir, Murid Seyyed Hossein Nasr Kita dapat mengatakan bahwa dalam lebih dari satu cara “filsafat metafisika” Shadr al-Din [Mulla Sadra] menggambarkan suatu tren baru dalam filsafat Islam. Shadr al-Din melakukan berbagai usaha untuk menguji setiap pandangan dan argumen filosofis yang pernah dikenal berkenaan dengan prinsip dan metode. Ia kemudian menyeleksi apa yang dinilainya sebagai argumen terbaik, merumuskannya kembali dan akhirnya mencoba merekonstruksi suatu sistem yang konsisten. Filsafat sistematiknya bukan Peripatetik ataupun Iluminasionis, melainkan rekonstruksi baru dari keduanya, yang berfungsi sebagai saksi bagi kesinambungan pemikiran filsafat dalam Islam. —Hossein Ziai, Profesor Filsafat Islam dan Kajian Iran di UCLA

Begitu juga dengan membaca tulisan seperti ini. —Muhammad Baqir, Murid Seyyed Hossein Nasr Kita dapat mengatakan bahwa dalam lebih dari satu cara “filsafat metafisika” Shadr al-Din [Mulla Sadra] menggambarkan suatu tren baru dalam ...