Sebanyak 18 item atau buku ditemukan

Sejarah Kontroversial Di Indonesia

Perspektif Pendidikan

Historiografi yang berkembang di era keterbukaan seperti yang terjadi saat ini telah membuka lebar peluang versi-versi yang berbeda tentang suatu peristiwa sejarah. Hal ini berpotensi menimbulkan beberapa kemungkinan dalam masyarakat. Pertama, kecenderungan perubahan pola pikir dari masyarakat itu menjadi lebih dewasa. Akan tetapi, ada pula kecenderungan yang bertolak belakang dengan kemungkinan pertama: adanya kebingungan di kalangan masyarakat. Kecenderungan ini muncul karena selama ini masyarakat hanya diperkenalkan dengan satu realitas tunggal dan belum terbiasa dengan pemikiran-pemikiran alternatif. Permasalahan inisungguh menjadi satu hal yang dilematis, sehingga diperlukan suatu upaya untuk mengubahnya. Salah satu upaya memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang beragam kontroversi dalam sejarah dapat dilakukan melalui pelaksanaan pembelajaran sejarah kontroversial. Akan tetapi, upaya untuk mengajarkan sejarah kontroversial masih merupakan hal yang relatif baru, terutama pada materi-materi kontroversial yang muncul setelah reformasi. Oleh karena itu, buku ‘Sejarah Kontroversial di Indonesia: Perspektif Pendidikan’ ini hadir sebagai sebuah kajian ilmiah tentang bagaimana relevansi dan seluk beluk sejarah kontroversial ditinjau dari konteks pendidikan. Buku ini mencoba untuk menganalisis pelaksanaan pembelajaran sejarah kontroversial secara lebih mendalam, sehingga mampu memberikan gambaran bagi ilmuwan dan praktisi pendidikan sejarah untuk menumbuhkan kesadaran kritis peserta didik. Buku ‘Sejarah Kontroversial di Indonesia: Perspektif Pendidikan’ menguraikan secara filosofis tentang anatomi sejarah kontroversial di Indonesia serta urgensi dan tujuan pembelajaran sejarah kontroversial. Kemudian diuraikan pula tentang berbagai kepentingan dalam pendidikan sejarah yang menjadi hambatan pembelajaran sejarah kontroversial. Buku ini juga menguraikan tentang bagaimana potensi pembelajaran sejarah kontroversial sebagai media rekonsiliasi konflik serta strategi penerapannya dalam praksis pembelajaran di dalam kelas dengan menggunakan pendekatan pedagogik kritis.

Buku ‘Sejarah Kontroversial di Indonesia: Perspektif Pendidikan’ menguraikan secara filosofis tentang anatomi sejarah kontroversial di Indonesia serta urgensi dan tujuan pembelajaran sejarah kontroversial.

Perempuan dan Hukum

Menuju Hukum yang Berperspektif Kesetaraan dan Keadilan

Walaupun konvensi CEDAW telah diratifikasi oleh Indonesia sebelum lahirnya
undang-undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional tetapi
secara konstitusional dan praktik hukum ketatanegaraan, Indonesia telah terikat
 ...

Pengantar Teori-Teori Sosial

Dari Fungsionalisme hingga Post-modernisme

Buku Pengantar Teori-teori Sosial melacak perkembangan teoritisasi sosial tentang medernitas yang dicetuskan Durkheim, Marx danWeber, perdebatan seputar struktur, agensi, dan perkembangan pemikiran feminis, hingga pengkajian tentang kontroversi teori kontemporer dalam sosiologi. Pip Jones, seorang pengajar Sosiologi di Cambridge, juga menyoal relativisme, post-modernisme, berikut kritik-kritiknya. Di bagian akhir, pembaca bisa menemukan perdebatan jantung teori sosial dewasa ini. Dengan ketajaman analisis, buku ini juga mengupas pemikiran Foucault, Bauman, Habermas, Beck, dan Giddens. Secara berurutan, Anda bisa mendalami: · Pengantar teori-teori sosial · Teori fungsionalisme (Emile Durkheim) · Materialism historis (Karl Marx) · Teori tindakan sosial (Max Waber) · Beragam teori feminism (liberal, Marxis, radikal) · Sosiologi interpretif · Teori wacana (Michel Foucault) · Strukturalisme, Post-strukturalisme, dan relativisme · Post-modernitas dan post-modernisme · Respons kritik atas post-modernisme dan post-modernitas Dengan demikian, para pemangku kepentingan (mahasiswa, peminat ilmu sosial, dosen, peneliti, akademisi, atau siapa pun) bisa mendapatkan landasan teori yang kuat guna memahami ilmu sosial.

Buku Pengantar Teori-teori Sosial melacak perkembangan teoritisasi sosial tentang medernitas yang dicetuskan Durkheim, Marx danWeber, perdebatan seputar struktur, agensi, dan perkembangan pemikiran feminis, hingga pengkajian tentang ...

Sejarah dan Teori Sosial

Teori sosial telah mengalami banyak perkembangan dalam beberapa dekade terakhir ini. Beberapa sosiolog dan antropolog, seperti para sejarawan, telah membuat “cultural turn”. Dengan demikian, kebudayaan menjadi lebih difokuskan. Bakhtin dan Gombrich, misalnya, mendiskusikannya secara lebih panjang, demikian pula Thomas Kuhn. Di sisi lain, berkembangnya “teori pilihan rasional” (rational choice theory) membawa kami untuk menambahkan seksi baru, yaitu tentang “problem” pada pembahasan konflik di antara sejarawan yang menekankan rasionalitas dengan pihak yang lebih mengutamakan relativisme kultural. Kepustakaan buku edisi baru ini juga telah diperbarui dengan menambahkan sejumlah artikel dan buku yang lebih mutakhir. Seksi baru pun ditambahkan, tentang modal sosial dan pascakolonialisme, yang sangat ramai dibahas dalam buku dan artikel era sekarang. Juga contoh-contoh baru kami tambahkan. Bahkan, untuk menampung banyaknya penambahan itu, kami sengaja membuat halaman baru. Sementara itu, bagian-bagian yang sudah tidak relevan, ketinggalan zaman, kami hilangkan, sebagaimana nyata dalam bibliografi dan teks-teks contoh yang dihilangkan.

Teori sosial telah mengalami banyak perkembangan dalam beberapa dekade terakhir ini.

Sosiologi Peradilan Pidana

Sistem peradilan pidana dapat dipahami sebagai lembaga kontrol sosial, yang berbeda dari lembaga kontrol sosial lainnya dalam dua cara penting: fokus hanya pada perilaku yang didefinisikan sebagai kejahatan serta sebagai basis pertahanan terakhir masyarakat terhadap orang-orang yang menolak untuk mematuhi nilai-nilai sosial yang diminan. Masyarakat beralih ke peradilan pidana ketika semua bentuk kontrol sosial yang ada di masyarakat tersebut gagal. Sistem Peradilan Pidana merupakan kontrol sosial formal karena dilakukan oleh agen resmi. Ada beberapa aspek untuk memahami sistem peradilan pidana, antara lain bahwa sistem peradilan pdaian adalah: (1) sebuah sistem normatif dalam bentuk aturan-aturan legal yang mengekspresikan nilai-nilai sosial melalui pelarangan yang didukung oleh sanksi pidana atas perilaku (conduct) yang dilihat secara serius salah atau berbahaya; (2) sebuah sistem administratif, di dalamnya secara komprehensif terdiri atas aparat resmi penegak hukum, otoritas penuntutan, pengadilan, serta fasilitas penghukuman dan koreksional; serta (3) sebuah sistem sosial, dimana defenisi dan tanggapan atas perilaku kejahatan melibatkan seluruh elemen dalam masyarakat - tidak hanya yang diundangkan dalam hukum pidana tetapi juga bagaimana masyarakat menginterpretasikan kenyataan terjadinya perilaku tersebut pada setiap tingkatan. Buku ini dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan dan bahasan tentang hal-hal yang terkait dengan berbagai masalah sosiologis dari keseluruhan proses yang terjadi dalam Sistem Peradilan Pidana. Substansi dari buku ini memberikan berbagai penjelasan tentang peradilan sebagai bentuk reaksi sosial terhadap kejahatan dan pelaku kejahatan; pengertian peradilan pidana secara sistemik dan etika peradilan pidana, model-model peradilan pidana dan pembenaran pemberian pidana; komponen dan kerangka kelembagaan peradilan; proses peradilan pidana serta hal-hal yang terkait dengan tahap peradilan pidana; alternatif penghukuman serta pemikiran awal tentang tantangan masa depan bagi Sistem Peradilan Pidana.

Organisasi dan Manajemen Kepolisian Mengingat variasi dalam gaya dan
struktur organisasi kepolisian, ada satu cara terbaik yang diyakini untuk
mengelola dan mengurus mereka, benarkah?. Sebagian besar ahli dalam
manajemen tidak ...

Hakikat Ilmu Pengetahuan Budaya

Tahukah Anda bahwa Ilmu Pengetahuan Budaya merupakan istilah yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (dulu Departemen) sebagai rumpun ilmu di samping Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial? Nama rumpun ilmu itu sekarang digunakan sebagai nama fakultas, menggantikan nama Fakultas Sastra yang sering disalahartikan sebagai kesusastraan, padahal dalam bahasa Sanskerta artinya kebudayaan. Mengapa ilmu pengetahuan? Karena banyak ilmu tergabung dalam rumpun itu. Pada hakikatnya, ilmu pengetahuan budaya menekuni hasil akal budi manusia dengan tujuan agar manusia menjadi lebih baik. Maka, para pakar ilmu pengetahuan budaya menggunakan berbagai hasil budi daya manusia sebagai objek penelitiannya. Maka, ancangan tekstual diterapkan dalam penelitiannya. Dalam kumpulan karangan para guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia ini, pembaca akan menemukan berbagai tulisan yang menunjukkan hakikat ilmu pngetahuan budaya. Kelima belas tulisan itu dikelompokkan dalam lima bagian: dari tulisan yang bersifat umum di bagian pertama hingga yang bersifat khusus bidang ilmu di bagian-bagian berikutnya: sejarah dan arkeologi, ilmu susastra, kajian budaya, dan linguistik.

Dalam kumpulan karangan para guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia ini, pembaca akan menemukan berbagai tulisan yang menunjukkan hakikat ilmu pngetahuan budaya.